Aku punya kejutan untukmu, katamu ketika kabut masih menebal di puncak bukit kala itu.
Dedaunan dan tanah masih basah, tapi engkau sudah berdiri di depan pintuku.
Datanglah ke rumah sore ini, akan kusuguhi engkau kopi paling enak sepanjang pertemanan kita, sambungmu.
Dengan safari coklat, engkau mengundangku
Di kursi bus antar kota pertama bertemu
Bukan magrib biasa di perjalanan
Karena roti dan air untuk berbuka puasa
Bagimu untuk terakhir kalinya
Ramadhan teramat syahdu yang mungkin pernah kudapati
Sejenak tiba di surau di pemberhentian Bahuku dan bahumu saling beradu
Aku melihatmu meneteskan air mata
Syahdu, karena aku baru bertemu
Seandainya saja semua bulan adalah Ramadhan, begitu katamu
Di sepanjang roda menyeret-nyeret badan bus
Aku merasa menikmati air dari sebuah telaga
Di telingaku ribuan takbir terpanyungi sayap malaikat
Merdu menyusup dalam sanubari
Menghantam luluh beku jiwa
Seperempat jam setelah menyalati diri sendiri
Melaju aku memenuhi undanganmu
Dalam zikir perasaanku di Ramadhan syahdu
Gigil jiwaku saat pandangku beradu kain hitam
Butiran hangatku menetes seperti Ramadhan terakhirmu
Padang, September 2010
0 komentar:
Posting Komentar