Sungguh aneh malam ini aku bertemu denganmu
Duhai gadis yang dahulunya dipikat dan dipinang
dalam sebuah istana
Berdebar-debar rasa jiwa menanti saat itu,
Dimana engkau tak jua datang menyatakan restu untuk takdirku
Aku termenung, di kuburmu semilir angin mengekang anak rambutku
Ada yang hilang dalam langkahku, tercium semerbak yang kadang menghilang
Aduhai, aku rindu padamu gadisku, ruhmu telah berlari dalam dadaku
Setapak tak sadar aku bergumam, menitipkan salam seorang pangeran
Dari negeri yang bergelut siluman hitam
Terhantam juga ingin robohkan, sekat kami denganmu wahai gadisku
Begitu lama bertemu, bukan kami tak sayang padamu
Begitu lama mendekap lagi, bukan kami tak cinta padamu
Engkaulah yang kami rindukan sepeninggal tapak kaki terakhir
Kami luka teringat dua malaikat akan menggoreskan sakit pada jiwaku
Aduhai gadisku, hendak kami papah dalam sepimu
Namun kami masih menghuni negeri siluman
Saat bertelekan tapak tangan di atas segi empat ini
Aku masih rindu padamu
Sambil menyisipkan salam dari pangeran
Beliau ingin bertemu
Akupun
Aduhai gadis yang dahulu dipinang
Selembut tanganmu hadir lagi malam ini
Sedang detak jantungku masih punya senandung sunyi
Ingin menjengukmu di sana, menuju puncak yang penuh rahasia
Luhur jiwamu melimpah wahai abdi ilmu
Gadis berkerudung yang dipinang untuk kedua kalinya
di istana berbeda
Padang, Juli 2010
Senin, 07 Maret 2011
Pinangan kedua untuk sang gadis
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar