Senin, 07 Maret 2011
Jalan tak lagi Lengang
Kemarau Basah
Jalan lengang penuh kenangan, Tuan
Kuhamparkan tikar sederhana
dari rerumputan kering dan tanah merengkah
lenyap ditelan warna coklat, kudendang seribu sesal
sungkan terlalu banyak kata
air mata tak turun tanpa menagih
Pinangan kedua untuk sang gadis
Sungguh aneh malam ini aku bertemu denganmu
Duhai gadis yang dahulunya dipikat dan dipinang
dalam sebuah istana
Berdebar-debar rasa jiwa menanti saat itu,
Dimana engkau tak jua datang menyatakan restu untuk takdirku
Aku termenung, di kuburmu semilir angin mengekang anak rambutku
Menunggumu
Menunggumu…
Harap lekas berkata lagi
Sedang riangnya waktu berkeliaran di depan jasad ini
Menunggumu…
Seperti rintik yang mengawali hujan
Sebentar turun dan reda lagi
Ketika tuan kembali
Sekembalinya tuan ke negeri ini
Dalam gumam yang pelan-pelan kami lantunkan
Senandung yang menari di atas genangan
Dalam subuh berpintukan fajar menemukan kehangatan mentari
Tapi tercabik jua bendera
Tak lama sebelum tuan kembali